TpY0Gfz7BSY0TpY5GUroGSrl

Fakultas Tarbiyah INHAFI Bawean Dorong Transformasi Pembelajaran melalui RPS Berbasis OBE dan AI

PestaMedia.com - Penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) di perguruan tinggi kini tidak lagi cukup berhenti pada pemenuhan administrasi akademik. Di tengah percepatan transformasi digital, RPS dituntut mampu menjadi instrumen yang memastikan proses pembelajaran benar-benar mengantarkan mahasiswa pada kompetensi yang terukur. Semangat itulah yang menjadi fokus Fakultas Tarbiyah INHAFI Bawean dalam Workshop Penyusunan RPS Berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang digelar Kamis (13/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Auditorium L2, Jl. Kebunagung, Lebak, Sangkapura, sejak pukul 08.30 WIB tersebut diikuti para dosen dengan agenda utama memperkuat pemahaman sekaligus keterampilan praktis dalam merancang pembelajaran berbasis capaian.

Workshop tidak diarahkan sekadar untuk menghasilkan dokumen RPS. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun pola pikir akademik bahwa setiap mata kuliah harus memiliki capaian yang jelas, proses pembelajaran yang selaras, serta asesmen yang mampu membuktikan ketercapaian kompetensi mahasiswa.


Sesi awal menghadirkan Moh. Nasir, M.Pd., Direktur STAIHAPress, yang membedah fondasi penyusunan RPS berbasis OBE. Materi mencakup konsep dasar OBE serta keterkaitan antara Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), dan Sub-CPMK.

Menurutnya, kualitas RPS OBE tidak ditentukan oleh banyaknya komponen yang tercantum dalam dokumen, tetapi oleh keterhubungan logis antarkomponen tersebut.

“RPS OBE bukan sekadar mengganti format RPS lama. Yang paling penting adalah memastikan CPL, CPMK, dan Sub-CPMK memiliki hubungan yang jelas sehingga pembelajaran benar-benar diarahkan pada kompetensi yang harus dicapai mahasiswa.”

Pernyataan tersebut menegaskan prinsip utama OBE: pembelajaran dimulai dari hasil yang ingin dicapai, kemudian dirancang proses dan asesmennya untuk memastikan hasil tersebut benar-benar terwujud.

Dengan demikian, RPS tidak lagi dipandang sebagai dokumen administratif semata, melainkan sebagai peta akademik yang mengarahkan dosen dan mahasiswa menuju capaian pembelajaran yang telah ditetapkan.

Pembahasan kemudian berlanjut pada aspek desain pembelajaran dan asesmen yang disampaikan Defi Dachlian Nurdiana, M.Si., Dosen Tetap Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI).

Ia menekankan pentingnya keterpaduan antara capaian pembelajaran, aktivitas pembelajaran, asesmen, dan rubrik penilaian melalui prinsip constructive alignment.

“Pembelajaran, asesmen, dan rubrik harus saling terhubung. Apa yang ingin dicapai mahasiswa harus terlihat dalam aktivitas pembelajaran dan dapat diukur melalui asesmen yang tepat.”

Dalam perspektif tersebut, asesmen tidak semata-mata berfungsi menentukan nilai akhir mahasiswa. Asesmen harus mampu memberikan bukti tentang sejauh mana kompetensi yang ditargetkan telah berkembang.


Karena itu, penyusunan rubrik menjadi bagian penting dalam RPS OBE. Rubrik memberikan indikator yang lebih objektif mengenai kualitas performa mahasiswa sekaligus membantu dosen memberikan umpan balik yang lebih terarah.

Transformasi semakin diperkuat melalui sesi yang membahas pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam penyusunan RPS berbasis OBE, yang disampaikan Muwafiqus Shobri, M.Pd.I.

Dalam sesi tersebut, peserta diperkenalkan pada pemanfaatan AI sebagai academic assistant untuk membantu merancang berbagai komponen RPS secara sistematis.

Dengan memasukkan informasi dasar mata kuliah, AI dapat dimanfaatkan untuk membantu menghasilkan rancangan CPMK, Sub-CPMK, materi pembelajaran, strategi dan metode pembelajaran, aktivitas mahasiswa, asesmen, rubrik penilaian, hingga Rencana Tugas Mahasiswa.

Namun, pemanfaatan teknologi tersebut tetap ditempatkan dalam kerangka kendali akademik dosen.

“Dosen tidak perlu lagi memulai penyusunan RPS dari halaman kosong. Dengan AI, berbagai komponen RPS OBE dapat digenerate secara otomatis. Setelah itu, dosen tinggal memverifikasi, mengoreksi, dan menyempurnakannya sesuai konteks akademik dan karakteristik mata kuliah.”

Menurut Muwafiqus, posisi AI bukan sebagai pengganti dosen, melainkan sebagai teknologi pendukung yang dapat mengurangi pekerjaan teknis dan repetitif.

“AI membantu menghasilkan draft, tetapi dosen tetap menjadi pengendali dan validator akademiknya. Jadi, teknologi digunakan untuk mempermudah pekerjaan dosen, bukan menggantikan peran dosen.”

Pandangan tersebut menjadi penting di tengah meningkatnya pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan. Teknologi, dalam konteks ini, harus tetap ditempatkan sebagai alat bantu untuk memperkuat kualitas kerja akademik, bukan mengambil alih otoritas keilmuan dosen.

Ketiga sesi dalam workshop tersebut membentuk satu alur yang saling melengkapi. Moh. Nasir, M.Pd. memberikan fondasi konseptual melalui pemahaman OBE serta keterkaitan CPL, CPMK, dan Sub-CPMK. Defi Dachlian Nurdiana, M.Si. memperkuat aspek desain pembelajaran, asesmen, dan rubrik. Sementara Muwafiqus Shobri, M.Pd.I. membawa peserta pada pemanfaatan AI untuk mempercepat dan mempermudah proses penyusunan RPS.

Dari rangkaian tersebut terlihat satu prinsip yang menjadi benang merah: RPS yang berkualitas bukanlah RPS yang sekadar lengkap secara administratif, melainkan RPS yang mampu menunjukkan keterhubungan antara capaian pembelajaran, aktivitas mahasiswa, strategi pembelajaran, dan asesmen.

Workshop ini sekaligus menunjukkan arah transformasi akademik yang sedang didorong Fakultas Tarbiyah INHAFI Bawean. Pemanfaatan teknologi tidak ditempatkan sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai sarana untuk menciptakan proses kerja akademik yang lebih efisien tanpa mengurangi kualitas dan integritas keilmuan.

Dengan pendekatan tersebut, AI diharapkan dapat membantu dosen mengurangi beban pekerjaan administratif yang repetitif sehingga energi akademik dapat lebih banyak diarahkan pada perancangan pengalaman belajar, pendampingan mahasiswa, pengembangan keilmuan, serta evaluasi kualitas pembelajaran.

Pada akhirnya, integrasi OBE dan AI bukan sekadar tentang bagaimana membuat RPS dengan bantuan teknologi. Lebih dari itu, keduanya menjadi bagian dari ikhtiar membangun ekosistem pembelajaran yang terarah, terukur, selaras, efisien, inovatif, dan berorientasi pada capaian nyata mahasiswa.

OBE memberikan arah. Desain pembelajaran menggerakkan proses. Asesmen membuktikan ketercapaian. AI mempercepat proses perancangannya. Dan dosen tetap menjadi pengendali utama kualitas akademiknya.


Komentar0

Type above and press Enter to search.