BAWEAN, 29 Agustus 2026 — Dari sebuah pulau di tengah laut, lahir kabar besar dari dunia pendidikan tinggi Islam. Sebanyak 97 mahasiswa Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Hasan Jufri (INHAFI) Bawean resmi menyandang gelar sarjana dalam Yudisium ke-13 Tahun Akademik 2025/2026.
Namun, angka 97 bukan sekadar statistik kelulusan. Di baliknya terdapat 35 lulusan berpredikat Cumlaude, rata-rata IPK 3,60, dengan capaian IPK tertinggi 3,92. Sebanyak 62 lulusan lainnya berhasil meraih predikat Sangat Memuaskan. Rata-rata masa studi mereka juga berada pada angka empat tahun.
Capaian tersebut menjadi potret perjalanan akademik Fakultas Tarbiyah yang tidak hanya berfokus pada meluluskan mahasiswa, tetapi mulai membangun budaya akademik yang ditandai dengan prestasi, publikasi ilmiah, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dua Lulusan Terbaik Terima Penghargaan
Momentum yudisium juga diwarnai dengan pemberian penghargaan kepada lulusan dengan IPK tertinggi pada masing-masing program studi. Untuk Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI), penghargaan diberikan kepada Safitri Aisyiah dengan IPK 3,68. Sementara dari Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), penghargaan diraih Ummu Habibah dengan IPK 3,92.
Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas capaian akademik sekaligus simbol penghormatan terhadap ketekunan, disiplin, dan konsistensi para lulusan selama menjalani proses pendidikan di Fakultas Tarbiyah INHAFI Bawean.
Dari Bawean, 618 Lulusan Telah Dilahirkan
Yudisium ke-13 juga menjadi penanda bertambahnya kontribusi pendidikan tinggi Islam di wilayah kepulauan.
Sejak era STAI Hasan Jufri Bawean hingga bertransformasi menjadi INHAFI Bawean, Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) telah menghasilkan 328 lulusan, sementara Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) menghasilkan 290 lulusan, Totalnya mencapai 618 lulusan.
Ratusan alumni tersebut menjadi bagian dari sumber daya manusia yang diharapkan terus memberikan kontribusi di bidang pendidikan, keagamaan, sosial, dan pembangunan masyarakat.
Bagi institusi pendidikan tinggi di wilayah kepulauan, capaian tersebut bukan sekadar angka. Ia menjadi bukti bahwa keterbatasan geografis tidak harus menjadi batas bagi lahirnya sumber daya manusia berpendidikan tinggi.
Bukan Hanya Lulus, Mahasiswa Mulai “Berbicara” di Level Nasional
Yang membuat capaian Fakultas Tarbiyah semakin menarik adalah produktivitas akademik yang menyertai perjalanan para mahasiswa dan dosennya.
Di tingkat nasional, mahasiswa Fakultas Tarbiyah berhasil meraih Juara 3 Lomba Esai Tingkat Nasional FPMPI Kopertais 4 Jawa Timur di UNSUDA Lamongan. Prestasi lainnya datang dari ajang Lomba Poster Tingkat Nasional PPMPI Indonesia di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan raihan Juara Harapan 2.
Di bidang publikasi ilmiah, capaian yang lebih tinggi juga mulai ditorehkan, Sebanyak dua artikel telah terbit pada jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus. Sementara itu, 13 artikel lainnya berhasil diterbitkan pada jurnal nasional terakreditasi SINTA 2 hingga SINTA 4.
Artinya, aktivitas akademik tidak berhenti di ruang kelas dan ujian akhir. Gagasan akademik mulai diarahkan menjadi karya ilmiah yang dapat dibaca dan diperbincangkan dalam ekosistem publikasi ilmiah.
Delapan Buku, Enam HaKI, Empat Book Chapter
Produktivitas tersebut semakin terlihat dari karya akademik yang dihasilkan. Fakultas Tarbiyah mencatat delapan buku ajar baru, dengan empat buku telah memiliki ISBN dan empat lainnya masih dalam proses ISBN. Selain itu, dosen dan mahasiswa menghasilkan enam Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) serta empat book chapter.
Sementara dalam bidang pengabdian, tercatat 22 kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan melalui kolaborasi dosen dan mahasiswa. Salah seorang mahasiswa bahkan telah mengikuti KKN Internasional, membuka pengalaman akademik yang lebih luas di luar lingkungan lokal.
Mutu Kelembagaan Ikut Digenjot
Prestasi mahasiswa berjalan beriringan dengan penguatan kelembagaan. Program Studi MPI dan PAI masing-masing telah memperoleh status akreditasi Baik Sekali, sedangkan PGMI berstatus Baik.
Fakultas Tarbiyah juga telah mengembangkan dan bersiap menerapkan secara bertahap kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE). Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menggeser orientasi pembelajaran dari sekadar proses menuju capaian kompetensi lulusan yang terukur.
Jejaring eksternal pun terus diperluas. Hingga tahun akademik 2025/2026, Fakultas Tarbiyah telah membangun sembilan kerja sama dengan lembaga pendidikan, perguruan tinggi, asosiasi profesi, pemerintah, dan sektor swasta.
SDM Dosen Diperkuat, Jurnal SINTA 4 Jadi Etalase Akademik
Penguatan mutu juga terlihat dari perkembangan sumber daya manusia. Dari 18 dosen tetap Fakultas Tarbiyah, sebanyak tiga dosen telah bergelar doktor, sementara enam dosen sedang menempuh studi doktoral. Sebanyak 13 dosen telah lulus sertifikasi, sedangkan dua dosen lainnya sedang menjalani proses sertifikasi.
Di sisi lain, Fakultas Tarbiyah kini memiliki AKSI: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam yang telah terakreditasi SINTA 4. Empat jurnal baru juga sedang dalam proses pengajuan ISSN.
Kondisi tersebut memperlihatkan arah pengembangan Fakultas Tarbiyah yang semakin menempatkan penelitian dan publikasi sebagai bagian penting dari budaya akademik.
Dekan: “Hari Ini Bukan Akhir Perjalanan Akademik”
Di tengah kebanggaan atas kelulusan para mahasiswa, Dekan Fakultas Tarbiyah INHAFI Bawean, Muwafiqus Shobri, M.Pd.I, memberikan pesan yang menempatkan kelulusan dalam perspektif yang lebih luas. “Hari ini bukan akhir perjalanan akademik, melainkan awal tanggung jawab yang lebih besar.”
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa gelar akademik bukanlah garis finis.
Para lulusan didorong untuk menjadikan ilmu sebagai sarana pengabdian kepada agama, masyarakat, bangsa, dan negara. Mereka juga diminta menjaga integritas, akhlak, tanggung jawab, serta nama baik almamater di mana pun berada.
Alumni juga diajak untuk tetap terhubung dengan almamater dan mengambil bagian dalam pengembangan Fakultas Tarbiyah serta INHAFI Bawean.
Dari Pulau, Menuju Indonesia dan Dunia
Yudisium ke-13 akhirnya tidak hanya menjadi seremoni akademik. Ia menjadi semacam rapor perjalanan Fakultas Tarbiyah INHAFI Bawean: 97 lulusan baru, 35 Cumlaude, IPK tertinggi 3,92, total 618 lulusan sepanjang perjalanan institusi, publikasi Scopus, artikel SINTA, buku, HaKI, prestasi nasional, KKN Internasional, hingga penguatan akreditasi dan sumber daya dosen.
Semua capaian tersebut bermuara pada satu pesan: pendidikan tinggi di wilayah kepulauan memiliki ruang untuk tumbuh, berprestasi, dan bersaing.
Dari Bawean, Fakultas Tarbiyah INHAFI tidak hanya ingin melahirkan sarjana. Lebih jauh, ia sedang membangun generasi yang diharapkan mampu membawa ilmu dari ruang-ruang kampus untuk menjawab kebutuhan masyarakat dari Bawean untuk Indonesia, dan perlahan menuju panggung global.






Komentar0