Oleh: Muwafiqus Shobri[1]
KHUTBAH
PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا
لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنْ
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ
عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا
الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah
kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan
sebenar-benar takwa, yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh
larangan-Nya.
Sholawat
dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Agung Muhammad
ﷺ, sosok yang diutus untuk menyempurnakan
akhlak mulia bagi seluruh alam.
Setiap
kali peringatan hari lahir atau panggung puji-pujian untuk Nabi ﷺ diselenggarakan, majelis-majelis dipenuhi
oleh gema sholawat, lantunan syair, dan retorika kecintaan. Hal tersebut tentu
merupakan bentuk penghormatan yang baik. Namun, di tengah semarak perayaan
seremonial tersebut, mari kita merenung secara jujur di hadapan Allah.
Apakah rasa cinta yang kita gaungkan telah benar-benar
mentransformasi akhlak kita sehari-hari? Atau kah cinta itu berhenti sebatas
luapan emosi saat majelis berlangsung, lalu menguap begitu kita kembali ke
tengah kompleksitas kehidupan nyata?
Hari ini, kita menyaksikan krisis etika yang amat
prihatin. Di era media digital saat ini, jemari begitu mudah mengetik ujaran
kebencian, membagikan berita tanpa verifikasi (hoaks), mencaci antar sesama Muslim,
hingga menjatuhkan kehormatan sesama manusia demi popularitas. Di pasar dan
dunia kerja, ketidakjujuran dan pelanggaran amanah kerap dianggap hal biasa. Di
dalam rumah tangga, krisis kesabaran dan kelembutan memicu keretakan hubungan.
Jika fenomena ini masih mendominasi hidup kita, lantas di
manakah letak jejak keteladanan Rasulullah ﷺ yang kita
klaim sangat kita cintai itu?
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ
أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ
اللَّهَ كَثِيرًا
"Sungguh,
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak
menyebut Allah." (QS. Al-Ahzab [33]: 21)
Ayat ini
menuntut kita untuk menjadikan Rasulullah ﷺ
sebagai uswah hasanah atau teladan utama dalam seluruh dimensi kehidupan, bukan
sekadar objek romantisme sejarah.
Dalam
hubungan antarmanusia dan etika berinteraksi, Rasulullah ﷺ memberikan batasan tegas mengenai kriteria keislaman seseorang.
Beliau bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ
الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
"Seorang
Muslim yang sejati adalah orang yang mana orang-orang Muslim lainnya selamat
dari gangguan lisan dan tangannya." (HR. Al-Bukhari no. 10)
Di era
modern saat ini, makna "tangan" dalam hadits tersebut mencakup pula
jemari kita yang mengetik narasi di media sosial, menyebarkan fitnah, serta
membagikan tuduhan yang belum pasti kebenarannya. Cinta kepada Rasulullah ﷺ yang sejati akan menahan lisan dan jari
kita dari menyakiti perasaan orang lain.
Selain
itu, dalam menyikapi perbedaan pendapat dan dinamika sosial yang sering kali
memicu perpecahan, Rasulullah ﷺ senantiasa menuntun
kita untuk mengedepankan kelembutan. Beliau bersabda:
إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ
الرِّفْقَ، وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ
"Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan menyukai kelembutan.
Dia memberikan kepada kelembutan apa yang tidak Dia berikan kepada
kekerasan." (HR. Muslim no. 2594)
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Kecintaan kepada Nabi ﷺ tidak boleh
direduksi sekadar menjadi rutinitas tahunan atau simbol-simbol lahiriah belaka.
Cinta yang sejati harus membuahkan perubahan konkrit:
Pertama, perbaikan etika komunikasi digital dan lisan.
Sebelum menyebarkan informasi atau menulis komentar, lakukan tabayyun dan
pertanyakan pada diri sendiri apakah tulisan tersebut diridhai oleh Rasulullah ﷺ atau justru
menyakiti sesama.
Kedua, penegakan kejujuran dan integritas. Meneladani
sifat Al-Amin milik Nabi ﷺ dalam bertransaksi, bekerja, dan memegang
jabatan tanpa melakukan penipuan maupun korupsi.
Ketiga, menghidupkan kelembutan dalam keluarga dan
masyarakat. Menghilangkan sikap kasar, egois, serta sombong dalam berinteraksi
dengan pasangan, anak, tetangga, maupun bawahan.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Sebagai kesimpulan khutbah kita hari ini, marilah kita menyadari bahwa
bukti tertinggi dari cinta kita kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah ittiba'—yaitu komitmen penuh untuk mengikuti ajaran,
akhlak, dan Sunnah beliau dalam setiap detik kehidupan kita.
Jangan sampai kita menjadi golongan yang bersuara lantang memuji Rasulullah
ﷺ, namun perilaku sehari-hari kita justru mencoreng nilai-nilai
luhur yang beliau perjuangkan. Mari kita perbaiki akhlak kita mulai dari
lingkungan terkecil di rumah tangga, tempat kerja, hingga dalam berinteraksi di
ruang publik dan media digital.
أَعُوذُ
بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. مُحَمَّدٌ
رَّسُوْلُ اللّٰهِۗ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗٓ اَشِدَّاۤءُ عَلَى الْكُفَّارِ
رُحَمَاۤءُ بَيْنَهُمْ تَرٰىهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَّبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ
اللّٰهِ وَرِضْوَانًاۖ
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ
لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ
إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
KHUTBAH
KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا
كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الشَّرِيفُ
الْمُعَظَّمُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ،
اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، فَقَالَ:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا
إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ
وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ
وَالْأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ
وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ
اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ
الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا
لَا يَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ
وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَتَّبِعُ سُنَّةَ
نَبِيِّكَ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ
يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ
الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا
اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ،
وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ
.png)
Komentar0