Oleh: Muwafiqus Shobri, M.Pd.I[1]
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Takwa dalam arti yang sebenar-benarnya: menjalankan segala perintah-Nya dengan penuh rasa cinta dan ketundukan, serta menjauhi segala larangan-Nya dengan rasa takut dan penuh kewaspadaan. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan mulia, Nabi Besar Muhammad ﷺ, sosok yang seluruh helai nafas dan detak jatungnya adalah wujud nyata dari penghambaan terbaik kepada Sang Pencipta.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Jika kita merenungi perjalanan hidup ini, ada satu nikmat yang amat sering kita sepelekan, padahal nilainya jauh melampaui tumpukan harta dan tingginya jabatan. Nikmat itu adalah waktu. Waktu adalah modal utama manusia di dunia. Tidak seperti harta yang jika hilang bisa dicari kembali, waktu yang telah berlalu walau hanya satu detik, tidak akan pernah bisa diputar ulang. Ia mengalir pergi meninggalkan kita, membawa serta lembaran-lembaran umur kita yang semakin menyusut.
Allah Subhanahu wa Ta'ala bersumpah secara khusus di dalam Al-Qur'an demi menegaskan betapa krusialnya hakikat waktu bagi kehidupan manusia. Allah berfirman:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
"Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran." (QS. Al-'Asr: 1-3)
Imam Asy-Syafi'i rahimahullah pernah menegaskan bahwa seandainya Allah tidak menurunkan hujjah kepada hamba-Nya melainkan hanya surat Al-'Asr ini saja, niscaya surat ini sudah cukup menjadi petunjuk bagi manusia. Mengapa? Karena surat ini membedah akar masalah utama manusia, yaitu kelalaian dalam mengelola waktu.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Apabila kita menengok sejarah keagungan dan keindahan sirah Nabawiyah, kita akan mendapati sebuah keteladanan yang tiada tandingannya. Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling sibuk sepanjang sejarah. Beliau bukan hanya seorang Nabi dan Rasul yang menerima wahyu, melainkan juga seorang kepala negara yang memimpin peradaban, panglima perang yang mengatur strategi kemiliteran, hakim yang memutus perkara rakyatnya, guru yang mendidik para sahabat, seorang suami yang membimbing istri-istrinya, seorang ayah dan kakek yang penyayang, serta seorang tetangga yang ramah.
Namun, di tengah samudera tanggung jawab yang begitu raksasa tersebut, tidak ada satu hari pun dalam hidup Rasulullah ﷺ yang lewat dengan sia-sia. Tidak ada detik yang terbuang tanpa nilai ibadah, tanpa kedamaian, dan tanpa keseimbangan. Rasulullah ﷺ tidak pernah mengalami apa yang manusia modern sebut sebagai burnout atau kekacauan hidup akibat krisis manajemen waktu. Mengapa demikian? Karena beliau membangun seluruh dinamika kehidupannya di atas prinsip keberkahan, keseimbangan (tawazun), dan penataan prioritas yang bersumber langsung dari petunjuk Ilahi.
Mari kita bedah dan hayati bersama, bagaimana Rasulullah ﷺ membagi dan menyelaraskan detik demi detik kehidupannya sehingga setiap dimensi kehidupannya terpenuhi dengan sempurna.
Pertama: Waktu untuk Salat dan Hubungan dengan Allah (Ibadah).
Bagi Rasulullah ﷺ, salat bukanlah beban rutin yang harus sekadar diselesaikan, melainkan puncak peristirahatan jiwa dan muara kedamaian. Ketika dinamika duniawi mulai menghimpit dan keletihan fisik melanda, beliau tidak mencari pelarian pada hal-hal yang sia-sia. Beliau akan memanggil muazinnya, Bilal bin Rabah radhiyallahu 'anhu, dengan ucapan yang sangat indah: "Istirahatkanlah kami dengan salat, wahai Bilal."
Salat lima waktu menjadi poros utama tempat seluruh jadwal harian beliau berputar. Ketika tiba waktu salat, Rasulullah ﷺ seketika meninggalkan segala urusan duniawinya untuk menghadap Sang Pencipta. Tidak hanya salat fardhu, malam-malam beliau dihiasi dengan qiyamullail yang panjang. Beliau berdiri berjam-jam meresapi ayat-ayat Allah hingga kedua kaki beliau yang mulia membengkak.
Ketika Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha merasa iba dan bertanya mengapa beliau masih bersusah payah ibadah sedemikian rupa padahal dosa-dosa beliau yang lalu dan yang akan datang telah diampuni, Rasulullah ﷺ memberikan jawaban yang menggetarkan hati:
أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
"Apakah tidak boleh jika aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?" (HR. Bukhari dan Muslim)
Malam hari menjadi momen beliau mengisi ulang energi spiritualnya. Hubungan yang kokoh dengan Allah di sepertiga malam terakhir inilah yang menjadi rahasia kekuatan beliau dalam menaklukan beratnya tantangan siang hari.
Kedua: Waktu untuk Bekerja dan Mengurus Kehidupan Duniawi.
Rasulullah ﷺ bukanlah sosok yang mengajarkan kemalasan atau kepasrahan yang keliru dengan dalih tawakal. Sejak usia muda, beliau adalah seorang pekerja keras yang jujur. Beliau menggembalakan kambing milik penduduk Mekkah dan berdagang hingga ke negeri Syam dengan integritas tinggi.
Bahkan setelah diangkat menjadi Nabi dan bertindak sebagai pemimpin tertinggi di Madinah, beliau tidak pernah enggan untuk memeras keringat secara fisik. Beliau tidak menempatkan dirinya sebagai raja yang hanya memerintah dari balik singgasana. Beliau ikut menggali parit bersama para sahabat dalam Perang Khandaq hingga tubuh mulianya berdebu dan perutnya diganjal batu karena menahan lapar. Beliau memerah susu kambingnya sendiri, menjahit bajunya yang robek, dan memperbaiki terompahnya yang rusak. Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita bahwa bekerja mencari nafkah yang halal dengan niat menjaga kehormatan diri dan memberi makan keluarga adalah bagian integral dari ibadah. Bekerja secara profesional bukan lawan dari agama, melainkan perwujudan dari ketakwaan itu sendiri.
Ketiga: Waktu untuk Berdakwah dan Mengabdi kepada Ummat.
Sejak fajar menyingsing hingga malam menjelang, pintu rumah Rasulullah ﷺ senantiasa terbuka untuk umatnya. Beliau duduk di masjid mengajar para sahabat, menyampaikan risalah wahyu, menjawab pertanyaan-pertanyaan hukum, menyelesaikan perselisihan antar suku, serta merancang strategi pembinaan masyarakat.
Beliau tidak pernah menunjukkan wajah yang sibuk atau terburu-buru ketika ada rakyat kecil yang membutuhkan perhatiannya. Jika seorang budak wanita atau rakyat jelata memegang tangan beliau untuk meminta bantuan atau sekadar mengadukan kesusahan hidup, Rasulullah ﷺ akan berjalan bersamanya hingga urusan orang tersebut tuntas. Beliau melawat orang yang sakit, menghadiri jenazah, melipur orang yang berduka, dan membagikan harta rampasan perang kepada orang-orang miskin hingga tidak ada sedikit pun kekayaan yang tersisa di rumah beliau. Setiap interaksi dakwah beliau dilandasi rasa kasih sayang yang tulus, sehingga setiap orang yang berada di dekat beliau merasa menjadi orang yang paling dicintai oleh Rasulullah ﷺ.
Keempat: Waktu untuk Keluarga dan Rumah Tangga.
Seringkali manusia zaman modern beralasan sibuk berdakwah, sibuk bekerja, atau sibuk berorganisasi sehingga menelantarkan anak dan istri di rumah. Namun lihatlah keagungan akhlak Rasulullah ﷺ. Beliau adalah sosok suami dan ayah yang paling sempurna dalam memberikan perhatian dan rasa cinta.
Aisyah radhiyallahu 'anha pernah ditanya oleh para sahabat tentang apa yang dilakukan oleh Nabi ﷺ ketika berada di dalam rumahnya. Aisyah menjawab:
كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ
"Beliau senantiasa membantu pekerjaan istrinya di rumah. Apabila telah masuk waktu salat, beliau keluar untuk melaksanakan salat." (HR. Bukhari)
Di dalam rumah, Rasulullah ﷺ melepas baju kebesarannya sebagai pemimpin negara. Beliau menjadi suami yang romantis, bercanda dengan istri-istrinya, mendengarkan cerita-cerita mereka tanpa memotong pembicaraan, dan membantu urusan dapur. Beliau bersikap amat lembut kepada anak-anaknya. Ketika cucu-cucu beliau, Hasan dan Husain, memanjat punggung beliau saat beliau sedang sujud, Rasulullah ﷺ memanjangkan sujudnya agar tidak mengganggu kegembiraan cucu-cucunya tersebut. Beliau senantiasa mencium dan memeluk anak-anak kecil, suatu kebiasaan yang bahkan membuat sebagian orang Arab badui merasa heran. Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku." (HR. Tirmidzi)
Kelima: Waktu untuk Istirahat dan Hak-Hak Diri.
Rasulullah ﷺ sangat memahami bahwa tubuh manusia memiliki hak yang wajib dipenuhi. Beliau tidak pernah membiarkan dirinya jatuh dalam ekstremisme ibadah yang merusak kesehatan fisik. Ketika beliau mendengar ada sahabat yang berniat untuk salat semalam suntuk tanpa tidur, atau berpuasa setiap hari tanpa berbuka, Rasulullah ﷺ menegur mereka dengan keras.
Rasulullah ﷺ tidur di awal malam setelah salat Isya, kecuali jika ada urusan penting dalam mengurus kemaslahatan umat. Beliau bangun di sepertiga malam terakhir untuk bertahajud. Beliau juga membiasakan tidur siang sejenak sebelum atau sesudah dzuhur (qailulah) untuk menyegarkan kembali stamina fisiknya. Beliau menjaga pola makan yang bersih, tidak berlebihan, dan menjaga kebersihan tubuhnya. Istirahat beliau bukan bentuk kemalasan, melainkan sarana pengumpulan energi agar dapat kembali beribadah dan berkhidmat secara maksimal.
Hadirin jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Betapa indahnya potret kehidupan Nabi Muhammad ﷺ. Kehidupan beliau adalah simfoni yang sangat harmonis. Antara salat dan kerja, antara dakwah dan keluarga, antara perjuangan dan istirahat, semuanya berjalan pada jalurnya masing-masing tanpa ada satu pun hak yang terzalimi atau terabaikan.
Lantas, bagaimana dengan diri kita hari ini?
Betapa seringnya kita merasa "tidak punya waktu". Kita beralasan terlalu sibuk bekerja sehingga tidak sempat membaca Al-Qur'an, tidak sempat melangkah ke masjid untuk salat berjamaah, dan tidak sempat mendidik anak-anak kita. Kita merasa lelah dan stres, lalu melarikan diri dengan menghabiskan berjam-jam waktu kita di depan layar telepon genggam, menatap hal-hal yang tidak memberikan manfaat sedikit pun bagi akhirat kita, bahkan terkadang mengundang dosa dan maksiat.
Kita sering menunda-nunda kebaikan, seolah-olah kita memiliki jaminan bahwa umur kita masih panjang sampai esok hari. Padahal malaikat maut terus mengintai, dan setiap detik yang terbuang adalah kerugian abadi yang tidak akan pernah bisa kita sesali di alam kubur kelak.
Ingatlah pesan Rasulullah ﷺ dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi:
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ مَا فَعَلَ فِيهِ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ
"Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat kelak hingga ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya bagaimana ia amalkan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia infakkan, serta tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan." (HR. Tirmidzi)
Setiap menit yang kita lalui akan dituntut pertanggungjawabannya di hadapan Allah swt. Apakah waktu kita habis dalam ketaatan atau kemaksiatan? Apakah waktu kita habis untuk membangun rumah di surga atau sekadar mengejar fatamorgana dunia?
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Marilah kita bangun dari tidur kelalaian ini. Marilah kita menata kembali jam demi jam dalam hidup kita dengan meneladani Rasulullah ﷺ. Jadikan salat sebagai jangkar kehidupan kita, jadikan pekerjaan kita sebagai ladang pahala, jadikan rumah tangga kita sebagai taman surga, dan jadikan setiap hela nafas kita sebagai modal untuk meraih keridhaan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Marilah sama berdo’a memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala semoga Allah swt memberikan kita taufik dan hidayah-Nya untuk kita semua agar dapat memanfaatkan sisa umur kita dengan sebaik-baiknya, serta mengaruniai kita keberkahan waktu di dunia dan kebahagiaan yang abadi di akhirat kelak. Aamiin..
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ وَالْبَشَرِ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَوْقَاتِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَالِنَا، وَلَا تَجْعَلْ أَيَّامَنَا تَمْضِي فِي غَفْلَةٍ وَلَا مَعْصِيَةٍ
اللَّهُمَّ أصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


Komentar0